Rabu, 01 Maret 2023

KONSEP PENDIDIKAN DI MASA DEPAN TIDAK BISA DITAWAR

Pelaksanaan program pendidikan dalam rangka peningkatan mutu sumber daya manusia menjadi tuntutan yang tidak bisa di tawar-tawar.

Dalam kehidupan bernegara, kualitas sebuah bangsa akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, maka akan semakin tinggi pula kualitas bangsa tersebut. 

Seiring dengan dimasukinya era globalisasi di abad 21, pendidikan semakin urgen dalam rangka menghadapi tuntutan zaman yang penuh persaingan di semua aspek bidang kehidupan. Sekarang ini hampir tidak ada celah bagi bangsa yang kualitas sumber daya manusianya rendah untuk dapat maju dan berkembang. Sebaliknya justru bangsa tersebut secara perlahan tapi pasti akan tenggelam dari peta percaturan dunia, seberapapun besarnya jumlah penduduk dan luas yang dimilikinya. 

Menghadapi kenyataan di atas, maka upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan nasional dimasa sekarang harus dijadikan agenda utama disamping perbaikan manajemen dan pemerataan pendidikan.

Tanpa mengurangi arti hasil-hasil pendidikan yang telah dicapai selama ini dan juga program yang telah, sedang dan terus dilaksanakan, pendidikan nasional Indonesia ke depan, harus menggunakan konsep kebermaknaan dalam setiap kegiatan pembelajarannya, atau dalam istilah singkatnya pendidikan yang ber-nilai. Artinya, pendidikan jangan lagi difungsikan sebagai formalitas kegiatan pemerintah yang menghabiskan dana trilyunan rupiah, tetapi betul-betul harus mampu memberikan value (nilai) bagi peserta didik sehingga mereka mampu hidup secara dinamis di masyarakat, mampu beradaptasi, dan terbebas dari rasa ketergantungan terhadap orang lain karena ilmu yang diperoleh mampu menopang perjuangannya untuk mencapai penghidupan yang layak.

Dengan konsep pembelajaran yang ber-nilai, kompetensi yang berbasis kecakapan hidup (life skill) menjadi tujuan pembelajaran yang terpenting. Siswa diharapkan tidak hanya mampu mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi sebatas teori, tetapi betul-betul menjadi keterampilan hidup yang dapat dijadikan bekal untuk hidup secara bermakna bagi semua peserta didik. 

Jadi, paradigma pendidikan masa depan harus diubah dari sekolah untuk mendapatkan ijazah atau keterangan lulus, menjadi sekolah untuk mendapatkan ilmu sebagai bekal hidup. Dengan demikian, di masa-masa mendatang tidak akan terdengar lagi lulusan sekolah yang menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan, sebab mereka akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, bahkan untuk orang lain. 

Sekolah di masa depan ibaratnya seperti orang “magang”. Jadi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah langsung bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, agar dapat memberikan pendidikan yang ber-nilai bagi peserta didik dibutuhkan paling tidak 3 komponen yang berkualitas dan saling menunjang, yaitu guru, kurikulum dan sarana prasarana belajar.

Pendidikan yang ber-nilai di masa depan adalah konsep pendidikan yang diyakini dapat mengatasi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kesulitan mencari kerja pasca sekolah atau berkaitan dengan kompleksnya permasalahan pendidikan selama ini. Namun untuk menjadikan pendidikan lebih bernilai bagi peserta didik, kita dihadapkan pada sejumlah tantangan dan permasalahan yaitu rendahnya kualitas guru, terbatasnya sarana prasarana belajar, belum dapat dilaksanakannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) secara efektif dan efisien.

Guna mengatasi ketiga tantangan dan permasalahan tersebut, tiada upaya lain yang lebih efektif untuk mengantisipasinya kecuali dengan cara peningkatan kualitas guru dengan cara lebih banyak memberikan bimbingan, pelatihan dan orientasi dalam rangka peningkatan profesionalisme kerja serta dengan meningkatkan kesejahteraannya. 

Disamping itu, tidak kalah pentingnya adalah penyediaan sarana prasarana belajar yang mencukupi dari sisi jumlah dan berkualitas dari sisi mutu. Bila kedua hal tersebut dapat dipenuhi, upaya lainnya yang perlu segera dilakukan adalah membenahi manajemen sekolah, meningkatkan kinerja staf sekolah dan meningkatkan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang telah dibentuk sehingga pendidikan yang bernilai dapat lebih cepat terwujud.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah bersikap dan menindaklanjuti tantangan dan permasalahan ini dengan meningkatkan anggaran di bidang pendidikan. Peningkatan anggaran pendidikan harus diiringi dengan kontrol yang kuat dari pihak-pihak terkait agar dalam penggunaannya dapat berjalan efektif dan efisien serta tidak dikorupsi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.